Banjir yang baru-baru ini terjadi di Propinsi Banten akan dijamin pemerintah melalui berbagai bantuan yang siap disalurkan.
Bantuan yang diberikan merupakan tanggap darurat, selanjutnya bantuan diberikan secara intens agar korban banjir kembali hidup normal. Hal ini disampaikan Menteri Sosial Salim Segaf Al-Jufri saat mengunjungi korban banjir di Kampung Undar Andir, Desa Undar Andir, Kecamatan Kragilan, Kabupaten Serang, Senin (16/1).
Rombongan Mensos tiba sekira pukul 15.00 WIB dan mengunjungi masyarakat sekira 36 menit. Mensos mengatakan, Kementerian Sosial (Kemensos) membawa delapan truk bantuan makanan, minuman, tenda, dan selimut untuk korban bencana banjir di Banten. Dia harap, bantuan tanggap darurat yang diberikan kepada masyarakat dapat mengurangi penderitaan warga korban banjir. “Bantuan yang kita berikan cukup banyak. Bantuan ini merupakan bantuan tanggap darurat bagi korban bencana banjir di Banten,” jelas Salim. Kata dia, warga korban banjir yang terserang penyakit penanganannya diserahkan kepada Palang Merah Indonesia (PMI) dan Pemkab. Mensos berharap tidak ada korban bencana banjir yang telantar karena tidak mendapatkan bantuan. “Bila perlu kita berikan jaminan kehidupan bagi masyarakat korban banjir agar mereka bisa melanjutkan hidupnya dengan normal kembali,” tegas menteri asal PKS ini. Bantuan yang diserahkan Mensos di antaranya 10 tenda pengungsi, 16.500 kilogram beras, 5 unit tenda dapur umum, 1.000 matras, pakaian, dan sejumlah kebutuhan pokok lain. Berdasarkan data di Kementerian Sosial, banjir yang melanda Banten merupakan akibat dari meluapnya sejumlah sungai sejak Jumat (13/1).
Setidaknya ada sebanyak 13.755 rumah warga yang tersebar di 97 desa yang terendam banjir. Selain merendam ribuan rumah warga, banjir juga merendam sekira 2.300 hektare sawah dan 250 hektare tambak di Kabupaten Serang. Pemprov Banten juga menyerahkan bantuan kepada korban banjir. Tercatat ada dua truk bantuan yang akan didistribusikan Pemprov Banten untuk dua lokasi banjir, yakni di Kecamatan Kragilan, Kabupaten Serang dan di Kecamatan Wanasalam, Kabupaten Lebak. Bantuan yang diserahkan Pemprov Banten berupa beras, mi instan, pakaian, dan kebutuhan alat rumah tangga. Gubernur mengatakan, untuk mengantisipasi banjir dalam jangka panjang,
Pemprov Banten akan segera berkoordinasi dengan Kementerian Pekerjaan Umum (Kemen PU) untuk bisa mempercepat proses pembangunan Waduk Karian di Kabupaten Lebak. “Keberadaan Waduk Karian tentunya diharapkan akan mampu mengantisipasi banjir seperti ini. Karena nantinya bisa menampung aliran air dari Sungai Ciujung dan Cidurian dengan kapasitas yang lebih besar,” ungkap Gubernur. Sedangkan untuk penanganan banjir di sejumlah kecamatan di Pandeglang, Pemprov Banten sedang berupaya membangun sodetan Sungai Cilemer yang rencananya bisa selesai tahun ini. Pantauan di lokasi pasca-banjir di Desa Undar Andir, Kecamatan Kragilan, Kabupaten Serang, warga yang sebelumnya menginap di sepanjang jalan tol di kilometer 57-58 sudah kembali ke rumahnya masing-masing. Namun demikian, kondisi jalan tol dan lingkungan rumah warga masih kotor dan banyak genangan air. “Banjir saat ini hampir sama dengan yang terjadi 10 tahun lalu. Mudah-mudahan tidak terulang lagi,” ungkap Gubernur. Kemarin, masyarakat sibuk membersihkan rumah dari lumpur yang terbawa banjir. Setelah dua hari terendam banjir, kini rumah warga di Undar Andir dan desa lainnya di Kragilan sudah terbebas dari genangan air. Dalam kondisi badan yang lelah dan letih setelah mengungsi di bahu jalan tol hingga Senin (16/1) pukul 10.00 WIB, warga fokus membersihkan rumah dan lingkungannya masing-masing. Dari pengakuan warga, bantuan yang diberikan pemerintah dalam bentuk makanan, minuman, dan selimut sudah cukup. Namun, saat ini warga masih mengharapkan bantuan air bersih, karena listrik yang digunakan untuk menyedot air melalui jet pump masih mati. Percepat Pembangunan Waduk Karian Untuk mengatasi banjir yang terjadi akibat luapan air Sungai Ciujung, Kementerian Pekerjaan Umum (PU) berencana akan mempercepat pembangunan Waduk Karian di Kabupaten Lebak. Pembangunan Waduk Karian diyakini meminimalisasi banjir luapan air Sungai Ciujung hingga 50 persen. Pernyataan itu disampaikan Wakil Menteri Pekerjaan Umum (PU) Hermanto Dakdak saat berkunjung ke Bendung Pamarayan didampingi Asda II Pemprov Banten Saleh MT, Kepala DPU Serang Irawan Noor, dan sejumlah pejabat Balai Besar dan Pemprov Banten. Hermanto Dakdak tiba di Bendung Pamarayan pukul 16.30 dan langsung melakukan peninjauan ke Bendung Pamarayan. Dia berdiskusi dengan petugas pengelola bendungan dan Kepala DPU Serang terkait dengan kondisi bendungan. Wamen PU Hermanto Dakdak mengatakan, banjir yang terjadi selama tiga hari akibat luapan Sungai Ciujung menjadi perhatian serius pihaknya. Atas dasar itu, dia langsung turun ke lapangan untuk meninjau kondisi Sungai Ciujung dan Bendung Pamarayaan. Sebelum ke Pamarayan, Hermanto juga mengunjungi korban banjir di Desa Undar Andir, Kecamatan Kragilan. “Salah satu upaya yang akan dilakukan Kementerian PU yaitu mempercepat proses pembangunan Waduk Karian. Jika Waduk Karian sudah dibangun, saya yakin dapat mencegah banjir karena air dari Sungai Ciberang tertahan di waduk tersebut dan beban Bendung Pamarayan bisa berkurang,” jelasnya. Dia menginformasikan, sebagai bentuk komitmen kementerian PU, tahun ini proses tender dan pembangunan fisik Waduk Karian akan dilaksanakan. “Terkait pembebasan lahan yang lamban, saya akan dorong supaya dapat cepat dilakukan,” ungkapnya. Selain menawarkan solusi mempercepat pembangunan Waduk Karian, Hermanto juga berjanji akan melakukan normalisasi Sungai Ciujung. “Kita upayakan pemeliharaan jalur sungai dan jaringan irigasi lebih diintensifkan agar dampak banjir dapat diminimalisasi,” tegasnya. Ditemui di Bendung Pamarayan, Asda I Pemkab Lebak Haryono menyatakan, proses pembebasan lahan Waduk Karian sedang berjalan. Sekarang, panitia sembilan sudah tuntas melakukan pengukuran terhadap lahan bakal Waduk Karian. Total luas lahan yang sudah dibebaskan diperkirakan mencapai 200 hektare. Kerugian Capai Miliaran Bencana banjir yang terjadi hingga menutup akses Tol Tangerang-Merak selama dua hari ini membuat kerugian di kalangan dunia usaha. Ditaksir kerugian mencapai miliran rupiah akibat distribusi barang terlambat, kerusakan pada mesin operasional dan terganggunya kinerja karyawan. Menurut Ketua Himpunan Pengusaha Wilayah Serang Timur (Hipwis) Suhandi Sutanto, Tol Serang-Merak merupakan satu-satunya akses yang rasional untuk dunia bisnis. “Makanya kalau akses tol tertutup karena banjir sudah pasti kerugian besar dialami dunia usaha. Kita belum bisa memastikan tapi diperkirakan mencapai miliaran rupiah,” kata Suhandi. Ditemui terpisah, Humas PT Marga Mandalasakti (MMS) Indra Wijaya mengatakan, saat ini pihaknya juga sedang menginventarisasi kerugian yang diderita. Meski nilainya belum diketahui pasti, namun diperkirakan mencapai miliaran rupiah. “Kerusakan banyak terjadi di beberapa pembatas jalan yang diakibatkan terperosoknya kendaraan. Selain itu, kerusakan aspal jalan sangat mungkin terjadi termasuk penurunan kontur tanah yang bisa berimbas pada kerusakan jalan,” ungkapnya
tenda,tenda pengungsi,tenda dapur,tenda peleton,tenda pleton,banjir,korban banjir,banjir 2012,tenda banjir